Sources of Indonesia (SoI)
Jl. Aman I No. 20, Teladan - Medan
Sumatera Utara, Indonesia
Tel: +62-61-7332259
E-mail: info@soindonesia.org soi@soindonesia.org soimedan@gmail.com
Web:
www.soindonesia.org
Hingga Saat ini masih banyak daerah yang belum tersentuh bantuan. Desa ampek kotto kecamatan lintang, Simpang Gantiang dan beberapa titik di Kabupaten Pariaman. Pola distribusi bantuan pun menjadi satu hal yang amat penting agar distribusi bantuan bisa merata dan tertata dengan baik. Kasus penjarahan bantuan yang sempat di siarkan salah satu stasiun televisi pada tanggal 03 Oktober 2009 yang lalu merupakan dampak negatif dari pola distribusi yang belum tersistematis. Alasan penjarahan tersebut adalah sebab bantuan yang belum juga datang dan syarat administratif yang mesti dimiliki korban untuk mengakses bantuan yang tertumpuk. Persoalan ini mengindikasikan sudah mulai terbentuknya opini “merebut bantuan” yang ada. Apabila mekanisme distribusi bantuan yang belum tertata ini terus berlanjut akan menimbulkan kekisruhan.
Bantuan dari pihak-pihak lain yang dibagikan langsung ke individu-individu korban yang selamat dari bencana gempa Sumbar ini merupakan bukti bahwa kita semua memiliki semangat kemanusiaan yang tinggi untuk membantu sesama kita yang sedang tertimpa musibah, tetapi di sisi lain, bantuan yang diberikan langsung kepada individu-individu korban bencana juga akan menimbulkan kecumburuan sosial, jurang pemisah hingga pertikaian antar pengungsi. Tentu saja kita tidak mau niatan baik kita malah menjelma menjadi sesuatu yang tidak kita harapkan.
Dengan demikian membangun sistem distribusi di tingkatan pengungsi menjadi sangat penting sekali untuk menghindari bertumpuknya konsentrasi bantuan, distribusi bantuan yang tidak merata dan kekisruhan antar pengungsi akibat bantuan.
Melihat Kembali Korban Prioritas
Sampai saat ini besaran konsentrasi penanggulangan bencana masih terfokus pada proses evakuasi. Semangat untuk menyelamatkan kemungkinan korban selamat di reruntuhan merupakan hal yang harus dimiliki dan patut di apresiasi dengan baik. Tetapi kemudian apabila tidak membagi konsentrasi peran pada managemen pengungsi yang baik maka hal tersebut akan menimbulkan hal yang buruk. Terfokusnya seluruh konsentrasi pada proses evakuasi akan menyebabkan pengungsi menjadi kurang diperhatikan, sehingga bisa saja korban bertambah bukan akibat dari penemuan jenazah di reruntuhan gedung melainkan dari pengungsi yang terlantar dan terancam kesehatan fisik dan psikologisnya.
Mempertimbangkan psikologis korban di masa mendatang
Otomatis orang-orang yang tertimpa musibah bencana akan kehilangan keberdayaannya untuk bisa mengatasi kebutuhan hidupnya. Maka dari itu korban bencana mengharapkan adanya dukungan dan pertolongan dari pihak lain untuk membantunya. Dan orang-orang yang memiliki semangat kemanusiaan yang tinggi ini tak akan sungkan-sungkan pula untuk membantunya, apapun dan berapa banyakpun akan diberikan untuk menolong korban bencana tersebut. Tetapi kemudian apabila dukungan dan perhatian yang diberikan hanya bersifat asupan material dari luar maka secara kebutuhan material kebutuhan korban mungkin akan terpenuhi, tetapi di lain sisi keberdayaan korban untuk bangkit tidak akan muncul malah akan menjadi semakin lemah saja.
Psikologis keberdayaan dari korban akibat bencana ini merupakan salah satu elemen yang sangat penting bagi pembangunan wilayah bencana di masa mendatangnya. Apabila keberdayaan korban bencana tidak dibangkitkan maka kedepannya, pembangunan wilayah tersebut kedepannya akan sangat bergantung pada pihak luar pula. Hal ini akan membuka ruang lebar bagi pengeksploitasian pihak luar terhadap potensi yang ada di daerah tersebut sebab masyarakatnya telah ketergantungan terhadap bantuan luar sehingga ia tak mampu memaksimalkan potensi diri dan lingkungannya untuk membangun hidupnya. Tentu saja kita tidak menginginkan hal tersebut terjadi, maka dari itu kita harus memandang bantuan material untuk mencukupi kebutuhan sesaat para korban hanyalah merupakan titik masuk saja untuk kemudian melakukan pemberdayaan di tingkatan pengungsi sampai mereka bisa terlepas dari ketergantungan terhadap bantuan dan memaksimalkan potensi lokal dan memulai kembali membangun kehidupannya secara bergotong royong. Sebab yang lebih dibutuhkan adalah motivator-motivator yang bisa menjadi teman mereka dalam menyusun rencana untuk bangkit kembali, mendorong keberdayaan mereka untuk bangkit, sebab mereka adalah orang-orang tangguh yang telah berhasil membuktikan diri bisa selamat dari amuk gempa.
* Tim Penanggulangan Bencana Sources of Indonesia (SoI)