Sources of Indonesia (SoI)
Jl. Aman I No. 20, Teladan - Medan
Sumatera Utara, Indonesia
Tel: +62-61-7332259
E-mail: info@soindonesia.org soi@soindonesia.org soimedan@gmail.com
Web:
www.soindonesia.org
Gempa berkekuatan 7,6 Skala Richter dikedalaman 71 Km pada titik koordinat 0.84 LS – 99.65 BT yang meledak di daerah Sumatera Barat pada hari rabu 30 September 2009 pukul 17:16:09 WIB Lalu telah menambah catatan sejarah duka di Bumi Indonesia. Diperkirakan gempa ini telah memulangkan ratusan manusia pada sang Khalik dan ribuan orang lainnya menderita luka. Hampir semua gedung, rumah, dan fasilitas umum dipaksa rebah sujud ke bumi membekap orang-orang yang terperangkap di bawahnya, entah masih setengah hidup atau telah ikut berpulang pula.
Menurut data dari satuan Koordinasi dan Pelaksana Penanganan bencana Sumatera Barat, satu hari paska gempa (01/10/09) saja korban meninggal sudah mencapai 421 orang dan diperkirakan masih ada ratusan lainnya yang tertimbun reruntuhan. Dampak kehancuran akibat gempa ini juga melanda daerah lainnya yang belum tersentuh sebab akses jalan yang terputus. Belum dapat didata dengan pasti jumlah korban yang ada di daerah lainnya ini.Belum lagi ditambah dengan kampung-kampung yang tertimbun akibat longsor. Melihat besaran jumlah korban yang ditimbulkan dan kerusakan infrastruktur yang telah melumpuhkan aktivitas perekonomian dan kehidupan masyarakat, bencana gempa yang terjadi di Sumatera Barat ini tidak lagi bisa dikatakan sebagai bencana kecil. Perhatian dari dan dukungan yang telah diberikan oleh negara lain menunjukkan bahwa bencana gempa yang terjadi di Sumatera Barat ini telah menjadi isu Internasional yang mesti segera ditangani secara bersama-sama.
Keadaan ini otomatis menggerakkan semua pihak untuk ikut membantu dan memberi pertolongan. Dukungan dan bantuan kontan mengalir baik dari dalam maupun luar negeri. Kondisi miris ini kemudian ditampilkan hampir di semua stasiun televisi. Orang-orang yang melihat kejadian itu pastinya akan terenyuh dan ikut melakukan sesuatu. Ketika menyaksikan tayangan tersebut, atau mendengar orang-orang yang bercerita tentang tajamnya amuk gempa, maka orang-orang pun akan lansung teringat dengan “Kota Padang”, padahal masih ada Pariaman dengan beberapa titik lokasi gempa yang juga menelan korban.
Terganggunya akses jalan ke Pariaman, proses evakuasi yang belum juga selesai di kota Padang dan menumpuknya konsentrasi bantuan di kota Padang menyebabkan daerah-daerah di Pariaman yang juga di serang Gempa lamban tersentuh. Menurut Tim Lapangan Source Of Indonesia (SoI) yang sudah berada di Padang dan sekitarnya satu hari setelah kejadian gempa, mengatakan kalau di Pariaman ketika itu (01 Oktober 2009) belum tersentuh pertolongan sama sekali, padahal kerusakannya juga parah. Melihat fokus konsentrasi pertolongan yang sudah berdatangan ke Padang maka Tim lapangan SoI kemudian memutuskan untuk beralih ke Pariaman sebagai bentuk upaya berbagi peran untuk menghidupkan kembali Ranah Minang. Salah satu titik yang kondisinya cukup parah akibat guncangan gempa berada di Kecamatan Sungai Limau, Kabupaten Pariaman.
Bencana lain yang telah mengintip
Dampak Gempa yang telah meluluh lantakkan Kota Padang, Pariaman dan beberapa daerah lainnya tidak hanya berdampak pada kehilangan nyawa dan harta benda, tetapi ribuan orang yang berhasil selamat dari bahaya gempa juga mengalami trauma psikologis mendalam yang tak boleh diabaikan. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat yang mengalami trauma akan dilanda kebingungan massal untuk memikirkan bagaimana mereka bisa bangkit dan menata hidup hari esok. Alhasil banyak korban yang selamat kemudian hanya menggantungkan nasibnya pada pertolongan dan bantuan dari pihak luar. Jika ini terus berlarut maka akan menimbulkan bencana psikologis yang dapat menghilangkan budaya Mandiri dan kerja kersanya Orang Minang.
Untuk itu diperlukan sebuah upaya guna mengembalikan semangat hidup dan kemandirian di tingkatan korban yang selamat dari Gempa agar ikut terlibat aktif dalam melakukan upaya-upaya perbaikan di segala sektor kehidupannya dengan menggunakan potensi dan kearifan lokal yang tidak ikut hancur oleh amuk Gempa. Gempa memang telah menelan korban dan infrastruktur dan serta akses jaringan, tetapi tidak meluluh lantakkan semua lahan produksi masyarakat seperti yang pernah terjadi akibat Tsunami di Aceh. Masih ada potensi lahan kebun dan sawah serta Lubuk larangan ( Kearifan Lokal di Ranah Minang yang menjaga kelestarian sungai dengan memelihara ikan secara bersama-sama di sungai dan diatur penggunaannya oleh hukum adat-red) yang bisa digunakan sebagai titik awal kebangkitan masyarakat Minang.
Membangun kesadaran psikologis untuk bangkit
Pola memberi bantuan untuk tetap bisa bertahan hidup merupakan sebuah kebutuhan bagi korban yang selamat dari bencana gempa di masa tanggap darurat, tetapi kemudian apabila ini berlangsung lama maka hal ini akan berakibat pada menghilangnya kekuatan masyarakat minang yang terletak pada sikap mandiri dan kerja kerasnya. Ditakutkan pada masa labil akibat trauma psikologis seperti saat sekarang ini akan membuat masyarakat minang terlarut dalam kondisi “pasif” dan menggantungkan hidupnya pada bantuan. Jika ini terjadi maka akan berakibat fatal pada pertumbuhan kehidupan dan kultur masyarakat Minang kedepannya. Oleh karenanya, masa tanggap darurat juga tidak boleh terlepas dari upaya-upaya untuk mendorong korban yang selamat untuk bisa mandiri dan terlibat aktif dalam membangun kembali sendi-sendi kehidupan dengan menggunakan potensi lokal yang ada sebagai pondasi awal menuju masa pemulihan.
Melihat konsentrasi penanggulangan yang masih terfokus di kota padang dan pola bantuan yang masih bersifat mencukupi kebutuhan sesaat korban yang selamat, maka Source Of Indonesia (SoI) kemudian mengambil peran untuk melakukan penguatan di tingkat masyarakat korban yang selamat dari bencana gempa di kecamatan Sungai Limau Kabupaten Pariaman guna membangun kekuatan psikologisnya untuk bisa kembali bangkit dan mandiri dalam membangun kembali kehidupannya sebagai pondasi awal untuk masa pemulihan. Langkah ini merupakan sebuah upaya untuk melengkapi berbagai bentuk pertolongan dan kepedulian yang telah dilakukan pihak lainnya. Langkah ini juga merupakan wujud berbagi peran dalam upaya menghidupkan kembali Ranah Minang secara bersama-sama.
***